Bagian I: Frekuensi yang Tak Terjangkau
Suara derak mesin Yamaha Mio merah itu masih tersimpan rapi di lipatan memoriku. Bunyinya khas, sedikit kasar di putaran bawah, namun menjadi irama paling menenangkan setiap kali kendaraan itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Di atas joknya, seseorang selalu menunggu dengan helm yang agak longgar dan senyum yang canggung.
Bagi sebagian orang, masa SMP dan SMA adalah tentang kebebasan. Namun bagiku, masa-masa itu adalah tentang penyamaran. Aku menyukai cara dia tertawa saat aku memprotes teori astronominya yang keliru, atau bagaimana matanya berbinar setiap kali aku menyerahkan buku tugas Bahasa Inggris yang telah kukerjakan. Dia mengira aku adalah gadis genius yang berhati baik. Dia tidak pernah tahu bahwa di balik tumpukan tugas itu, ada sebuah utang budi yang bertransformasi menjadi perasaan yang teramat dalam.
Beberapa tahun lalu, ketika vonis operasi amandel membuat keluargaku terdesak secara finansial, seorang pria paruh baya membeli sepetak tanah warisan Ayah dengan harga di atas pasaran. Uang kelebihan itu menyelamatkanku dari komplikasi. Ayah menyebutkan nama anak dari pria dermawan itu—seorang siswa satu angkatan di sekolahku. Sejak hari pertama kembali ke sekolah, tujuanku hanya satu: menemukan siapa pemilik nama itu.
Aku menemukannya. Dia bukan sosok populer yang dielu-elukan, melainkan remaja biasa yang lebih sering menghabiskan waktu di pojok perpustakaan. Namun bagiku, dia adalah episentrum dari seluruh keberadaanku.
Setiap pagi, aku sengaja memperlambat langkah di halte bus hanya untuk memberi ruang bagi motor merahnya menyalip. Ketika bensin motornya habis—yang terjadi hingga lebih dari tiga kali dalam sebulan—aku berpura-pura kesal padahal di dalam hati aku merayakan setiap detik berjalan kaki bersamanya di bawah terik matahari Lombok. Aku bahkan sengaja menawarkan diri mengerjakan tugas-tugas sekolahnya hanya agar memiliki alasan valid untuk menatap wajahnya lebih lama.
Namun, cinta pada usia belasan sering kali dibayangi oleh ketakutan yang belum matang. Aku terlalu takut jika status 'berpacaran' akan membawa konflik, pertengkaran, dan pada akhirnya—perpisahan. Aku ingin dia ada di hidupku selamanya, dan bagiku saat itu, cara terbaik untuk mengabadikannya adalah dengan tidak pernah memilikinya secara resmi.
Hingga sore itu tiba.
Langkah kaki kami menggema di sepanjang koridor sepi menuju area parkir. Dia berjalan lebih lambat dari biasanya. Ketika kami sampai di samping motornya, dia berhenti, membalikkan badan, dan menatap mataku dengan intensitas yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Maukah kamu lebih jauh dari sekadar teman?” bisiknya.
Pertanyaan itu menghantam dadaku bagai gelombang pasang. Harapan dan ketakutan bertabrakan hebat di dalam kepalaku. Jika aku menerima, bagaimana jika suatu hari kami saling membenci? Jika aku menolak, bagaimana jika aku melukainya? Dalam kepanikan yang membeku, aku hanya mampu mengukir sebuah senyuman—sebuah senyuman samar yang bermaksud mengatakan 'tunggulah sebentar lagi'.
Namun, dia menafsirkannya sebagai penolakan yang halus.
***
Bagian II: Presisi Bayangan
Keheningan yang menyusul setelah sore itu terasa lebih bising daripada ledakan. Dia mulai menarik diri. Tidak ada lagi obrolan santai di halte, tidak ada lagi derak mesin Mio merah yang melambat di depan rumahku, dan tidak ada lagi pesan singkat di malam hari.
Aku menyaksikan penyesuaian itu dari kejauhan. Nilai-nilainya merosot, tatapannya kehilangan pendar yang biasanya ada saat dia memimpin ceramah Jumat di musala sekolah. Dia tampak redup—seperti bulan yang kehilangan pantulan sinar mataharinya. Dan tragisnya, aku tahu akulah penyebab kegelapan itu.
Di saat yang sama, kerapuhanku membukakan pintu bagi takdir lain. Seorang pria yang lebih tua, pilihan orang tuaku, hadir dengan ketegasan yang tak bisa kubantah. Dalam masyarakat tempat kami tumbuh, patuh pada orang tua adalah kehormatan tertinggi, meski harus dibayar dengan mengubur impian sendiri. Aku menerima perjodohan itu tanpa perlawanan, membiarkan hatiku berubah menjadi ruangan kosong yang hampa.
Dua bulan berlalu tanpa sepatah kata pun di antara kami.
Hingga suatu sore di halte bus sekolah, gerimis tipis mulai membasahi aspal. Aku berdiri sendirian, menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Dari kejauhan, sebuah motor berhenti tepat di depanku. Pengendaranya membuka kaca helm.
“Mau pulang bareng?” tanyanya. Suaranya terdengar datar, terbiasa oleh jarak yang kami ciptakan sendiri.
Dada saya sesak. Betapa inginnya aku melompat ke jok belakang itu, memeluk pinggangnya, dan menceritakan semua rahasia yang kupendam selama berbulan-bulan—tentang operasi amandel, tentang rasa syukurku, dan tentang ketakutan konyolku akan masa depan. Namun di ujung jalan, mobil tunanganku sudah terlihat mengarah ke halte.
Aku menelan semua kata-kata itu kembali ke tenggorokan.
“Enggak... aku hari ini dijemput,” jawabku seraya memaksa bibirku membentuk senyuman paling rapi yang bisa kuberikan.
Dia mengangguk pelan. Kaca helmnya diturunkan kembali. “Aku paham.”
Dia memutar gas dan berlalu pergi, menyisakan kepulan asap tipis yang menyatu dengan gerimis. Aku berdiri mematung saat mobil tunanganku berhenti di depanku. Saat pintu mobil tertutup dan kendaraan melaju membelah jalanan Lombok, aku menatap ke luar jendela, menyaksikan sosoknya yang makin mengecil di kejauhan.
Air mata yang kusembunyikan akhirnya pecah. Aku tersenyum bukan karena aku bahagia, melainkan karena aku tahu: patah hati terhebat bukanlah saat kita ditolak oleh orang yang kita cintai, melainkan saat kita menyadari bahwa orang yang kita cintai patah hati... karena ulah kita sendiri.


💬 Komentar & Diskusi (0)
Login untuk berkomentar.