“Eh, Let, apa sih yang membuat kamu secinta itu sama kerjaan kamu ini? Yes, aku tahu sih, pasti banyak perjuangan. Apalagi ini kan dokter, harus banyak belajar,” ujar Tania, sahabat Letiana, sambil menatapnya penasaran.
Letiana hanya tersenyum. Sore itu mereka duduk di sebuah kafe kecil dekat rumah sakit. Secangkir kopi masih mengepulkan asap di hadapan Tania. Namun, Letiana hanya menatap kosong keluar jendela.
“Haruskah aku ngomong?” gumam Letiana pelan.
“HARUSSS! Aku kepo. Kamu tinggalin cowok sekeren itu cuma gara-gara prinsip kamu itu, kan, wow!” Tania setengah berteriak, membuat orang di meja sebelah menoleh.
Letiana menarik napas panjang. Matanya sejenak menerawang seperti membuka lembaran kisah yang lama ia simpan rapat.
***
Di sebuah rumah sakit di Kota Bandung, ada seorang dokter muda bernama Letiana. Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang cantik, pintar, ceria, dan pengertian. Senyuman manisnya selalu menjadi obat pertama sebelum resep yang ia tuliskan. Ia sangat menikmati pekerjaannya, melayani pasien tanpa lelah.
Sejak awal, Letiana menutup pintu hatinya untuk urusan cinta. Hidupnya sudah penuh dengan kesibukan: pasien yang datang setiap hari, jadwal jaga malam, dan tuntutan profesi dokter yang tak pernah selesai. Ia merasa pekerjaannya sudah cukup untuk membuatnya bahagia.
Namun suatu hari, seorang lelaki datang ke rumah sakit dengan luka di lengannya. Lelaki itu tinggi, tegap, sedikit berisi, dengan aura gagah yang sulit disembunyikan. Namanya Kevin.
Ketika Letiana merawat lukanya, Kevin terpaku. Ada sesuatu pada senyum Letiana yang membuat hatinya bergetar. Sejak saat itu, Kevin selalu mencari alasan untuk datang kembali. Meski lukanya sudah sembuh, ia akan bilang, “Dok, kayaknya masih perih deh, boleh cek lagi?” hanya agar bisa melihat Letiana.
Ia bahkan berusaha meminta kontak pribadi Letiana. Sayangnya, sang dokter menolak dengan sopan.
***
Kevin bukan pria biasa. Ia seorang anggota pasukan khusus, sibuk dengan tugas negara yang berat. Namun di sela kesibukan itu, ia selalu menyempatkan diri datang saat Letiana piket. Kadang membawa sekotak makanan untuk tim medis, kadang hanya sekadar menyapa.
Lama-lama, perhatian itu membuat hati Letiana goyah. Ia mulai melihat sisi lain Kevin: pria yang hangat, sabar, dan penuh perhatian.
“Dokter nggak boleh kecapekan,” kata Kevin suatu malam ketika mengantarnya pulang. Ia menyalakan hazard motor besarnya agar Letiana bisa menyeberang dengan aman.
Letiana terkekeh. “Aku sudah biasa. Lagian ini bagian dari pekerjaanku.”
“Kalau kamu tumbang, pasien kamu siapa yang rawat?” Kevin menatapnya serius.
Sejak saat itu, obrolan demi obrolan membuat mereka semakin dekat. Mereka makan malam bersama, jalan singkat di taman kota, bahkan pernah kehujanan bareng setelah shift malam Letiana. Hati Letiana perlahan membuka diri.
Namun, kedekatan itu tidak selalu mulus. Ada sisi gelap yang terus mengganggu pikiran Letiana: Kevin sering tiba-tiba menghilang.
Kadang ia sulit dihubungi berhari-hari. Kadang ia datang dengan wajah lelah, luka baru, atau sekadar diam seribu bahasa.
“Kevin, kamu sebenarnya kerja apa sih?” tanya Letiana suatu malam.
Kevin hanya tersenyum tipis. “Aku cuma bekerja untuk negeri ini. Maaf kalau kadang aku nggak bisa cerita.”
Jawaban itu semakin menumbuhkan kecurigaan Letiana. Hingga suatu hari, rasa penasaran itu membawanya mengikuti Kevin diam-diam. Dan saat itulah, ia mengetahui kebenarannya: Kevin adalah pasukan khusus, bagian dari misi-misi berbahaya yang sering mempertaruhkan nyawa.
Kabar itu menghantam hati Letiana. Baginya, pekerjaan dokter adalah untuk menyelamatkan nyawa. Sedangkan Kevin, meski ia tahu niatnya mulia demi bangsa, sering terlibat dalam misi yang berpotensi menghilangkan nyawa.
Hati kecil Letiana bergolak. Ia memang mencintai Kevin, tapi prinsip yang ia pegang terlalu kuat untuk diabaikan.
Akhirnya, dengan berat hati, ia memutuskan hubungan itu. Kevin mencoba meyakinkan, tapi Letiana sudah mantap.
“Kita terlalu berbeda, Kev. Aku menyelamatkan hidup. Kamu… bisa saja sebaliknya. Aku nggak sanggup hidup dengan rahasia dan ketidakpastian.”
Kevin hanya menatapnya. Ada luka yang dalam di mata pria itu, tapi ia tahu Letiana tak bisa dipaksa.
***
Kini, di hadapan Tania, Letiana menceritakan alasan sebenarnya.
“Gini, Tan,” Letiana mulai, suaranya bergetar. “Aku sangat mencintai pekerjaan ini. Aku memegang prinsip karena perjuangan aku dan Papa aku. Dulu, Papa dipecat karena ketahuan korupsi. Itu masa paling kelam dalam hidupku. Aku butuh banget dana untuk masuk kedokteran, dan gosip orang-orang tentang keluarga kami nggak ada habisnya. Tapi justru dari situ, aku belajar arti harga diri.”
Tania menatapnya iba, tak berani menyela.
“Papa pernah bilang aku bisa jadi dokter, meski orang lain meremehkan. Aku belajar siang malam, bantu Mama jualan, dan berjuang sampai akhirnya diterima kuliah kedokteran. Saat aku sudah di titik lelah, Papa meninggalkan kami untuk selamanya. Tinggallah aku dan Mama, berjuang bersama sampai aku akhirnya lulus.”
Air mata Letiana mengalir. Tangannya meremas tisu di atas meja.
“Itulah kenapa aku sangat menghargai pekerjaanku. Ini bukan cuma tentang aku, tapi juga tentang perjuangan Mama, tentang harga diri keluarga, tentang keyakinan Papa. Jadi ketika aku lihat Kevin dengan pekerjaannya yang penuh rahasia dan bisa berlawanan dengan prinsipku… aku nggak sanggup, Tan. Aku nggak sanggup.”
Kafe itu hening sejenak. Tania hanya bisa menggenggam tangan sahabatnya.
“Lett, aku ngerti sekarang. Kamu memang keras kepala, tapi aku bangga. Kamu pegang prinsip bukan karena ego, tapi karena luka dan perjuangan yang kamu jalani.”
Letiana tersenyum tipis. Hatinya masih sakit karena kehilangan Kevin, tapi setidaknya ia tahu ia memilih jalan yang benar.
Di luar, hujan mulai turun. Butiran air mengetuk kaca jendela, seakan ikut mengerti betapa berat keputusan yang baru saja ia ceritakan.


BAIQ INTAN MARYAMUL
keren banget