Jejak AksaraJejak Aksara

Menjelajah Semesta...

Thumbnail
Log Naratif

Dari mana Lahirnya Tragedi?

✍️ Oleh: Aria Solihin⏱️ 17 mnt👁️ 92

Mulut goa terbuka, laki-laki paruh baya yang  berbadan tirus itu terbangun, dan gamang. Setengah kakinya yang bengkok tertanam di tanah, badannya sedikit membungkuk. Sedangkan di luar udara terasa panas, matahari tepat berada di pucuk langit, mencampakkan tombak-tombak tanpa ampun. tanah lempung merekah, batu pasir mengeluarkan aroma hangus, pohon-pohon gamal mengering: meliuk rapat-rapat, akarnya yang biasanya menedekap batuan induk fondasi keras yang belum mengalami pelapukan total  kini menyungging menyentuh udara. ia tidak bisa memahami situasinya  saat ini,  ia tidak ingat apa-apa,  juga, tidak mengingat terakhir kali ia tertidur, ia hanya mengingat dua hal: waktu ia menarik napas pertama kali, ia seperti meneguk udara asin dan hari yang terasa seperti memungut warna untuk menyusun sebuah mozaik yang asing. Dan di saat ia terjaga sepenuhnya, ia mendapati dirinya dalam keadaan turba di sebuah goa pelarutan batu kapur, ditemani seorang gadis berpipi bagaikan pauh dilayang, rambutnya mayang mengurai dan telanjang. Gadis dengan sorot mata cokelat cinammon, bulu mata lentik seroja, alis semut beriring: membias dan kering oleh udara yang lesap. Tiba-tiba Jemari seperti meniti senar, dan mata berkedip beberapa kali, tersenyum dan sedikit berkedut, lalu ia pelan-pelan membiarkan dirinya terbawa ikut menyelami sebuah perpindahan, memasuki dunia lain. walaupun saat ini ia dihinggapi rasa kebingungan yang luar biasa, setidaknya ia nggak sendirian, ia ditemani seorang gadis berkulit bersih dan sehat, proposisi seimbang, serta pancaran keramahan alami yang baru saja membalas kedipan matanya yang berangsur menjadi percakapan, Saling memberikan nama satu sama lain.

            “nama kamu sekarang Zamaretta” ucap si lelaki paruh baya  itu “nama kamu sekarang Zamarudda” sahut si gadis menatap lurus

            Mereka kembali tersenyum canggung tapi hangat. sempat beberapa detik yang lalu, tangan mereka bersentuhan, tak jelas mana yang gemetar. Zamaretta merenggangkan tubuhnya, gumpalan debu memenuhi segmentasi lorong goa. Lalu, ia menepuk payudaranya yang ranum, tidak ada debu, hanya deburan sintal yang merangsak ingatan Zamarudda sebelum meringkukkan diri karena kelembapan yang tinggi. Kemudian, Zamaretta menepuk pelan lehernya, terlihat urat hijau gelap keindahan berahi. Zamarudda melihatnya: mata kucing hutan. ia tersentuh setelah perlekatan pusar Zamaretta terlihat di saat merenggangkan tubuh tadi, dan lekukan pinggul yang memenuhi pandangannya. Zamaretta duduk, membentangkan tungkai, kaki bagian belakang lututnya lentur menyentuh tanah yang terbentuk dari kumpulan kotoran-kotoran Kelelawar yang membusuk kemudian membatu. terlihat pula paha bagian dalam yang tergores ornamen stalaktit. Wajah Zamaretta  yang berubah merah Amaryllis: Zamarudda seketika getir. Kali ini,  tidak ada desahan paruh beo yang membuat mereka harus pergumulan hasrat satu sama lain, nyaris segalanya mereka lakukan dalam hening, hanya sedikit bicara satu sama lain. Zamarudda  cukup melempar pandang sesaat, Zamaretta paham maksudnya.

             Sinar matahari sore hari menciptakan kontras tajam di area gelap di mulut goa. Mata nya tertuju pada sebuah tebing –tebing vegetasi hijau yang padat. angin yang bercampur debu panas menginap di pupil mereka, setelah itu berpindah ke sesemakan yang saling sikut satu sama lain, sehingga mengeluarkan gemerisik. Cuaca akan terasa terang dan dingin: kadang cerah pada sore hari, tapi selalu dingin, dan kelembapan goa melekat di kulit mereka. Ia melihat di sana-sini, tertanam dalam tanah tumbuhan berduri, ia menemukan tunah hijau mempunyai pangkal kering berwarna cokelat kekuningan, dan bunga iris-irisan liar.

            Ambruknya sore, dan malam sudah mulai merayap, gelap datang  lebih cepat. Mereka duduk di mulut goa, Batang pohon yang gelap menyelinap di bayangan mereka, dahan menjuntai melintasi jalan setapak yang terlihat di detik terakhir setalah mereka memberi tanda dari kayu. Rumpun semak bergoyang, barangkali itu siput telanjang yang keluar di malam hari, kemudian bersembunyi di dalam tanah moist. Malam sudah meniti puncak, Zamaretta merebahkan badannya di bahu Zamarudda, rambut pendeknya mendiami lekuk bahunya, jejak hitam yang hampir tak terlihat oleh Zamarudda berbelok-belok di antara semak belukar dan jalinan dedaunan. Jarum pinus dan getah pohon memenuhi penciumannya, tak ada jamur Kuping Liar yang berbau kayuan lembap, hanya semprotan Sigung yang tercium di sekeliling mulut goa. Zamaretta terperenyak setiap kali mendengar angin malam menyengat kupingnya: lemas dan jatuh terduduk. namun kewaaspadaan jarak pandang rendah mengikat lekuk tubuh Zamaretta. Sekali lagi pun,  Zamaretta terbangun, bukan karena angin yang menyisir lantai hutan, melainkan tangan culas Zamarudda menyentuh bibirnya yang kering: mencuri napas. Tangan Zamaretta menyentuh pipinya, sepontan, dan mulai kikuk. kehangatan segera mengelilingi mereka, Zamarudda melumat bibir Zamaretta sehingga menciptakan rasa hangat, geli, dan bedebar yang menyenangkan. Zamarudda menurunkan bibirnya sampai ke leher, lalu menyentuh payudara Zamaretta yang ranum lantas mengulum putingnya. Selagi ketegangan merapat bintang-gemintang, Zamarudda merayap di atas tubuhnya, Zamaretta merasakan tubuhnya terombang-ambing, terhuyunglah pantatnya. Ia merasakan kulitnya yang bilur terkena gigit, biru, lantas menguning. Untuk sesaat pandangannya membentuk seluruh dunia. Zamaretta terkesiap: napas tertahan sesaat, kemudian  medorong Zamarudda, Zamaretta berdiri.

            “kalau kamu ingin, kita harus menikah dan disaksikan oleh tuhan” rungut Zamaretta, geram.

Zamarudda dihinggapi kebingungan, menebak jidat, kemudian berhenti bergerak menjelang kesadaran. Zamarudda lupa siapa tuhan nya, bahakan apa agamanya. Ia benar-benar lupa: seperti seseorang yang mendiktekan diri pada  Amnesia Disosiatif, seorang yang mengalami pengalaman yang terlalu membebani, dan seketika itu pula, secara tidak sadar memblokir akses memori di otaknya.

            “siapa tuhan kita?” ujarnya pelan, hampir berupa bisikan

Zamaretta tidak menjawab, hanya membidik,  ia juga tidak mengetahui siapa tuhanya.

            “kalau begitu, besok aku akan mencari tuhan” kata zamarudda selagi Zamaretta kebingungan.

            Malam adalah waktu yang paling tepat untuk menulis sejarah persetubuhan: adalah sejarah lintasan-lintasan sensasi, ekspresi basah, lendir dan asin yang saling susul-menysul. Perkawinan adalah mengetahui bagaimana menyimpan semua apa yang diutarakan fisik dan didorong oleh naluri hewani. Walaupun begitu, pernikahan bukanlah masalah cinta, namun satu hal yang lebih mendebarkan: lahiriah dan persetubuhan. Maka, semua akan menjadi masuk akal, jika Zamarudda dibelakangan hari akan membuat tuhannya sendiri, sehingga dapat menikmati malam peraduan dengan Zamaretta semampu keyakinan atas tuhan masih tetap ada.

            Walaupun seribu pengarangan kegelapan mengendap begitu tebal, malam tidak jatuh di hutan ini: Zamarudda membual. Namun bagaimanapun juga, kebingungan adalah racun yang bekerja lebih cepat, lebih akurat. malam yang dimegahi kanopi yang menelan iramanya berubah menjadi somfoni teka-tiki, sampai malam benar-benar terjaga. Hal itu terus berulang sampai Matahari muda terlihat dari balik Maple berdaun merah, pantulannya membekas di tanah,  sebagian besar debu telah hilang, hanya ada bekas lumatan mulut Zamaretta yang tersisa.

            “O, kamu mau kemana? Tanya Zamaretta, matanya menatap lekat, seakan membidik

            “mau mencari makanan dan tuhan”

Zamaretta hanya mengangguk, nggak berniat untuk ikut.

            Zamarudda pergi mengikuti tapak jalan serat batang gulma yang berlarik-larik di antara tepi-tepian gundukan tanah hasil endapan goa, dan beberapa pepohonan yang belang-belang kehitaman, serta bintik-bintik yang berwarna hijau pucat berderet di pangkalnya. Ia melewati jalan setapak, ada petak-petak bunga gamal dan semak kismis belum mati diterpa matahari, mekar bergerombol. perjalanan mencari tuhan memang sangat Niskala: tidak hanya tidak abstrak: tapi sesuatu yang berada di luar jangkauan realitas kemungkinan manusia. namun, Zamarudda tidak bisa mengekang ranum hasrat barang sedetikpun, juga, lekuk tubuh Zamaretta yang tak akan ia sesali ketika dengusnya susul menyusul antara area pinggul dan pertengahan pusar, yang dentingnya ketika sekali Laras memekik zakarnya,  atau mulut Zamaretta yang menempel pada mulutnya: kering namun manis, panjang, dan begitu bening. Dan semua itu begitu dalam menyentuhnya.

            Anda membanyangkan, sampai cerita ini terpatri di kepala anda, anda mengamati bagaimana napas hangat Zamaaretta  ketika melumat mulut Zamarudda, sekarang anda melihat dengan napas yang terengah-engah, tercungap-cungap: ia menghentikan perjalannya, ia duduk di belakang bayangan batu, ia merenung, dan bergumam; "bagaimana mungkin aku akan menemukan yang mustahil ilahi itu,?"  ia menenggelamkan diri dalam renungan sepontan;

            “aku berbalik ke sisi lain: saat aku terbangun dengan kebingungan, aku menemukan diriku dalam keadaan suasana dibeliak udara. Sungguh, sensasi yang tidak menyenangkan ketika menemukan diri di dalam kegelapan, ini seolah-olah mencekram diriku pada sesuatu yang dingin, atau panas menyentuh badan telanjangku”

            Lama ia merenung, akhirnya ia mendapatkan ide tentang tuhan, ia enyah dari tempat duduknya, mencari daun untuk bisa ia tulis. Ia menemukan daun Siwalan kering, dan meredah tumbuhan rengat menjadi tinta, setelah itu ia mencari pohon yang bisa ia buat menjadi tali, ia menemukan tali akar arus. Setelah menemukan bahan yang ia butuhkan,  ia kembali ke dekat batu besar itu lalu mulai menulis:

            “akulah tuhan mu, menyembahlah hanya kepadaku dengan menundukkan kepalamu, maka aku akan memberkati kalian dengan firman ku, dan menikahlah, perbanyaklah keturnan, sungguh aku akan memberikan rizki atas perbuatan baik kalian” surah Zamarud ayat (1)

ia mengikatkan tali ke batu itu, sebongkah batu kapur, dan menutupi semua celahnya agar tak mudah mengalami pelarutan oleh apapun karena bersifat sedikit asam. kemudian ia menaruh tulisan itu di bawah batu. Ia tak ingat waktu. Lambat Laun pengelihatannya mulai menyusut dan memudarkan huruf-huruf pada daun Siwalan di hadapannya. Tak lama kemudian air mata menyembul. Setelah proyek pembuatan tuhan itu selesai, ia kembali ke goa, membawa jamur dan beberapa buah-buahan.

            “aku sudah menemukan tuhan kita, tuhan Zamarud” ucapnya

Zamaretta terkejut mendengar itu, antara percaya, setengah percaya, atau tidak percaya sepenuhnya.

            “apa buktinya jika kamu sudah menemukan tuhan? Tanya Zamaretta

            “Buah-buahan ini, jamur-jamuran ini, tuhan Zamarud memberikannya. aku berdoa di depannya, lalu, tiba-tiba makanan itu menumpuk di depanku"

            "Kenapa?"

            "Wajahmu," ujarnya, "sepertinya kamu tidak yakin"

            Sebenarnya banyak yang perlu diprtanyakan oleh Zamaretta, bagaimanana Zamarudda mengenali tuhan yang baru setengah hari ia temukan, ia bisa bertanya 1) bagaimana cara tuhannya memeperkenalkan diri? 2) kenapa tuhannya begitu pelit dengan memberikan jamur-jamuran, buah-buahan, kenapa tidak memberikannya daging? atau ia juga bisa bertanya 3) Jika Tuhannya memang benar-benar ada, kenapa tidak memberikannya satu ajaran bahwa hambanya tidak boleh bertelanjang?

            Keesokan harinya, Sesampainya di sana, Zamaretta terkejut, ia melihat tuhannya hanya sebongkah batu kapur, namun ia tidak bisa memastikan dengan jelas itu batu apa, ia hanya melihat batu itu diikat dengan tali dari kayu, "apakah tuhan semiskin itu" gumamnya. Namun ia melihat Zamarudda merundukkan kepala, lantas berdoa, setelah itu, Zamarudda menujukkan tulisan yang ia taruh di bawah batu, Zamaretta mebacanya;

            “Akulah tuhan mu, menyembahlah hanya kepadaku dengan menundukkan kepalamu, maka aku akan memberkati kalian dengan firman ku, dan menikahlah, perbanyaklah keturnan, sungguh aku akan memberikan rizki atas perbuatan baik kalian” surah zamarud

            Sekarang anda melihat sekali lagi dengan getir, ketika Zamaretta tercengang melihat tulisan itu, itulah wahyu petama yang diturunkan tuhan, perintah untuk menyembahnya, menikah, dan membuat keturunan, setelah itu, kita diberkati. Namun, sepertinya anda akan kecewa ketika melihat Zamaretta tak ambil pusing dengan semua anggota ia saksikan. Zamaretta dan Zamarudda melangsungkan pernikahan dan disaksikan oleh tuhan mereka, (tuhan Zamarud) dengan ucapan yang sederhana, “aku menikahimu, ya, aku menerimanya”lalu mereka resmi menjadi suami istri, dan bebas melakukan apa saja, dan segera membuat keturunan.

            Sepasang mahluk sudah sah menjadi suami-istri. Kesiapan untuk menjalani hidup, berumah tangga, dan memantapkan berahi adalah kerjaannya sehari-hari. tidak ada yang bisa dilakukan oleh Zamaretta kecuali menyadari dirinya sebagai seorang istri yang harus melayani, dan membuat suaminya tetap bahagia. Begitu juga dengan Zamarudda, tidak ada  yang bisa ia lakukan kecuali menyimpan kebohongan-kebohongan itu.

            Beberapa tahun sudah berlalu, mereka sudah mempunyai anak kembar laki-laki dan perempuan yang bernama Manu dan Mani, lalu mereka mengajarinya ayat dan membacakannya setiap kali anak nya hendak tidur.

            “akulah tuhan mu (Zamarud),  menyembahlah hanya kepadaku dengan menundukkan kepalamu, maka aku akan memberkati kalian dengan firman ku, dan menikahlah, perbanyaklah keturnan, sungguh aku akan memberikan rizki atas perbuatan baik kalian” surah zamarud

            “tuhan kita menyenangkan, kamu berdoa dan kemudian berbaring dan tidur. Di malam hari kamu berdoa lebih baik dari pagi hari, sehingga kamu akan memahami dengan lebih baik apa yang kamu katakan dan rasakan. Di malam hari kamu akan dijaga, kamu tidak akan merasakan ketakutan” ucap Zamarudda

            Setelah cukup dewasa, mereka akan dinikahkan, dan disaksikan oleh tuhan Zamarud, dan beberapa tata cara yang sudah ditambahkan oleh Zamarudda,  dengan mengelilingi batu, menciuim pohon-pohon, dan merebahkan badan di tanah  tanda syukur, dan mereka siap untuk membuat keturunan.

            Sama seperti ayahnya manu dan mani, hanya saja mereka mempunyai perbedaan, mani yang memiliki kepekaan terhadap hidup nya, apa lagi masalah badan yang tidak tertutup benang ringan sehelai pun, ia memiliki keresahan, dan juga rasa malu: ia adalah dara pingitan yang berjalan dengan rasa maluan, keindahan dirinya dibalut oleh sutra 'iffah dan bermahkotakan hayya'.  Berbeda dengan saudaranya, ayah atau ibunya. Mani memiliki kecendrungan atas pertanyaan-pertanyan apa yang layak dan apa yang tidak layak. Misalnya, apakah layak seorang manusia tidak berpakaian? Apakah layak seorang manusia memakan daun-daun sepanjang tahun? Apakah layak tuhan yang disembah adalah sebongkah batu? Apakah layak... Tidak ada yang bisa menjawab itu, kecuali ibunya yang akan segera menenangkan Mani, Walaupun Zamaretta adalah sosok ibu yang mencintai suami sepenuhnya, ia juga mempunyai pertanyaan yang sama ketika Zamarudda pertama kali memperkenalkan tuhan Zamarud  kepadanya. Bagaimanapun, ia juga tidak berniat menghinati Zamarudda yang telah memberikannya  keturunan, ia juga tidak bisa membenci Mani yang mempertanyakan sesuatu yang juga masih melekat di benaknya.

            Bahkan, pertanyaan-pertanyan yang menggerogoti kepalanya, banal tapi sangat jujur. Zamaretta; di suatu malam mempertanyakan hal yang sama, "kenapa tuhan tidak memberikan pakaian? begitu banyak tak kuketahui tentang tuhan, dan aku disadarkan kembali diwaktu-waktu yang mungkin tepat oleh Mani. Hal-hal semu, binal, dan janggal, bahkan dalam perapian sesembahanku pada Zamarud"         

            Awalnya Zamarudda abai, namun semakin dalam pertanyaan nya, Zamarudda pun menjadi risau, dari kerisauan itulah Zamarudda membuat Zamaretta tidak bertanya lagi untuk selamanya.

            Puluhan  tahun telah mengendap, akhirnya Manu dan Mani mempunyai keturunan, Zamarudda dan zamaretta sudah meninggal. Zamarudda meninggal karena penyakit yang menyerang di sekujur tubuhnya: penyakit itu tidak hanya menyerang permukaan, tetapi memakan inangnya ke dalam. sedangkan, Zamaretta mati setelah dicekik oleh Zamarudda malam itu, dan itu demi citra. Manu akan melanjutkan pekerjaan ayahnya sebagai seorang Nabi, Mani masih tetap tidak percaya terhadap tuhan ayahnya. Apapun alasan Manu tentang tuhan ayahnya, seperti katanya; Mani adalah perempuan yang cantik, sebuah karunia dari Zamarud. Mani tidak suka kata "dikaruniai" apalagi yang datang dari pengertian Zamarud, baginya; karunia bukan masalah kecantikan, tapi napas dan kehidupan, keberadaan kita hari ini, kesehatan dan waktu-waktu yang kita miliki adalah sebuah karunia. Berbeda dengan apa yang menjadi keteguhan ayahnya tentang karunia adalah cantik dan  kenikmatan tubuh semata.             

            Goa sudah dipenuhi orang-orang yang sedarah dengannya, ia masih mengajarkan satu ayat yang sama, dan tata cara  pernikahan nabi Zamarudda, sehingga keturuanya akan mengajarkan itu kepada keturunan-keturunan setelahnya.

            Barangkali anda tidak akan menyangka,  pertumbuhan  manusia sangat cepat, sehingga mereka harus mencari tempat tingal lain yang lebih luas. Pertumbuhan manusia: Bukan karena mereka tidak membiasakan diri dalam cuaca  dingin, namun karena satu alasan yang mereka yakini,  yaitu, keberkahan, dan kelimpahan itu ada setelah keturunan tidak ada  sampai batasan yang wajar. Tragedi ini bermula;  ketika Zamarudda mengatakan kepada Manu tentang apa itu berkelimpahan. Katanya; segala sesuatu yang baik itu akan dateng ketika, kamu (Manu) mempunyai banyak keturunan. Dari perkataan inilah manu tidak memikirkan apa-apa selain menyetubuhi Mani setiap saat. dari sini pula akan ada satu ajaran dari nabinya bahwa, berkelimpahan itu  akan datang jika mempunyai banyak keturunan.

            Di malam hari, ketika manusia-manusia itu berkumpul, mereka mengusulkan  membuat suatu agama yang mereka sebut dengan agama Zamarud, dan nabinya Zamarudda dan Manu Bin Zamarudda. kata Manu ketika ia memberikan nasehat di suatu pagi; “wahyu ini adalah satu-satunya wahyu yang di turunkan tuhan kepada ayah ku, wahyu berikutnya akan datang setelah kalian mempunyai banyak keturunan, dan kalian akan diberikan keberlimpahan, diberkatilah kalian, pujilah Zamarud yang agung”

            Semua keturunan Zamarudda: adalah orang-orang yang selalu merasa diutungkan dari satu sisi: persetubuhan dan berlomba mempunyai keturunan.  hanya itu yang bisa mereka lakukan, atau hanya itu yang membuat mereka percaya terhadap tuhan buyutnya, Zamarudda. jika ada, itu hanya pekerjaan yang paling lumrah: mencari buah-buahan untuk anak-anak mereka, membelah pohon, atau mengelupas lumut batu sebagai makanan.  Namun, hal yang paling penting , begaiama cara membaringkan seorang perempuan di tanah basah, menangkupnya dengan mulutnya, tangannya, dan seluruh bagian tubuhnya, mereka tetap begitu sampai fajar. Di mana datangnya tragedi disemua zaman? Bukan tentang persetubuhan yang lebih mirip hewan, tapi bagaimana tuhan-tuhan itu muncul dan dibuat. Begitu banyak hal  yang perlu ditanyakan, misalnya, 1) kenapa mereka masih percaya? atau 2) kenapa mereka tidak curiga?  Atau bisa juga 3) kenapa mereka masih mempercayai, kematiannya itu karena inang Zamarudda menghendaki tubuhnya? Seperti apa yang dikatakan keturunan-keturunannya, Manu dan Mani mati karena inang Zamarudda menghendaki tubuhnya.

            Bahkan, ketika Zamarudda terkapar sakit, ia tidak memberikan satu ayat yang barangkali dapat mengubah kepercayaan mereka, namun, mereka masih percaya, Masih memandikan batu, menyalakan perapian di hadapan Zamarud, menaburkan bunga-bungaan,  Kenapa? Tidak ada satupun alasan yang dapat menghilangkan keyakinan mereka. Selama kebutuhan atas kepercayaan masih ada, mereka akan tetap mempercayai Zamarudda. mereka membutuhkan kepercayaan yang kaku, sebenarnya sedang mencari tuan untuk ditaati. Zamarudda bukanlah nabi, tapi pembentuk simbol, yang kemudian diyakini dengan akut oleh keturunan-keturunannya untuk memperkuat apa yang  dibenarkan oleh Zamarudda itu sendiri.

            Lama sudah zaman mengendap, kurun waktu melingkar dalam keabadian, berlapis-lapis telah berubah dan menua: prangai itu masih menghidupi luar-dalam pedukuhan Zamarudda. Tuhan Zamarud sudah mulai ditinggalkan, enyahlah ia sebagai batu kapur, enyah juga ayat nya.  Namun, cara berpikir dan prilaku masih diadopsi dengan cara yang berbeda: lebih modern. Tidak ada satupun orang yang menyalakan perapian, tidak ada lagi yang mengelilingi pohon dan merebahkan badan. keturunan-keturunannya sudah mulai membangun friksi-friksi: ketegangan kecil yang bertahap sebelum memuncak menjadi klimaks.  Kepelbagaian golongan muncul, dan golongan itu membuat golongan-golongan yang lain. Ajarannya tentang keturunan masih di jajarkan di pasar-pasar, begitu juga dengan pendogmaaan masih dijejalkan, hanya itu. Kedua hal ini  menjadi senjata Zamarud yang baru, Zamarud yang lebih modern. Mereka tidak lagi menyebut tuhan Zamarud di setiap perkawinan mereka, mereka mengganti keturunan menjadi pengikut, persetubuhan menjadi relasi sosial, dan tuhan Zamarud  menjadi Zamarudisme atau ideologi. ***

A
Bionarasi Penulis

Aria Solihin

Aria Solihin, adalah seorang penggiat literasi yang menaruh minat mendalam pada isu-isu sosial, filsafat, dan pendidikan. Berangkat dari kecintaannya terhadap dunia kata, ia aktif menuangkan ide dan perenungannya melalui berbagai karya tulis, baik berupa cerpen, prosa, maupun catatan lepas. Melalui karya-karyanya, Aria berusaha mengajak pembaca untuk berefleksi, mempertanyakan gagasan-gagasan kaku, nilai-nilai lama dan menemukan makna baru dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, ia aktif di komunitas Literasi Sanggar Baca Bhavana dan Aktif dalam mengkampanyekan Pendidikan Alternatif Non Formal. Aria, terus aktif menggerakkan berbagai inisiatif literasi di komunitas lokalnya. Ia dapat disapa melalui Instagram: @sanggarbaca_bhavna


Beri Rating Transmisi Ini

5.0/5 (3 suara)

untuk memberi rating.


💬 Komentar & Diskusi (4)

untuk berkomentar.


Avatar

Saman Hari

Wah cerpennya relevan banget hari ini. Banyak sekali orang-orang hari ini dikendalikan oleh simbol-simbol yang dibuat oleh manusia.
Ehemm.. isme-isme itu lohhh

Avatar

Erwin Pibrianto

prabowisme wkwk

Avatar

Sanggar Baca Bhavana

Waduhh ngerihhh

Avatar

Sanggar Baca Bhavana

Ehemmm isme isme ya

Spasi Baris