Maras Rena Nyaman Ate: Catatan Petualangan di Sumbawa
oleh Fathul Rakhman dan Lulu Wulandari
Editor: Fathul Rakhman
Sinopsis
Maras Rena Nyaman Ate merupakan sebuah catatan perjalanan mendalam yang merangkum petualangan eksotis di tanah Sumbawa. Buku ini lahir dari kegelisahan para penulis selama masa pandemi Covid-19, yang kemudian membawa mereka membuka kembali memori foto dan tulisan terserak mengenai keindahan alam serta dinamika sosial di pulau tersebut. Melalui narasi yang personal dan jujur, pembaca diajak menjelajahi destinasi populer seperti Pulau Kenawa dan Paserang hingga menembus hutan Marente yang menantang.
Lebih dari sekadar catatan piknik, buku ini menyoroti semangat pengabdian sosial-pendidikan di desa-desa terpencil yang terisolasi. Penulis berbagi kisah perjuangan warga di Desa Tepal dan Tangkam Pulit yang hidup bersahaja dalam kemandirian energi dan keterbatasan akses pembangunan. Kehangatan interaksi di dapur warga hingga tradisi lokal yang masih terjaga menjadi warna tersendiri yang memperkaya setiap bab perjalanan ini.
Karya ini juga mendokumentasikan kekayaan biodiversitas Sumbawa, termasuk ekspedisi dokumentasi burung langka di Pulau Moyo dan penetapan kawasan SAMOTA sebagai cagar biosfer dunia. Pembaca akan mendapatkan gambaran utuh mengenai potensi pariwisata kelas dunia yang masih beradu dengan tantangan fasilitas infrastruktur di lapangan. Sebuah panduan sekaligus refleksi kritis bagi siapa pun yang ingin mengenal sisi lain dari kemegahan alam dan budaya Nusa Tenggara Barat.
Lebih dari sekadar catatan piknik, buku ini menyoroti semangat pengabdian sosial-pendidikan di desa-desa terpencil yang terisolasi. Penulis berbagi kisah perjuangan warga di Desa Tepal dan Tangkam Pulit yang hidup bersahaja dalam kemandirian energi dan keterbatasan akses pembangunan. Kehangatan interaksi di dapur warga hingga tradisi lokal yang masih terjaga menjadi warna tersendiri yang memperkaya setiap bab perjalanan ini.
Karya ini juga mendokumentasikan kekayaan biodiversitas Sumbawa, termasuk ekspedisi dokumentasi burung langka di Pulau Moyo dan penetapan kawasan SAMOTA sebagai cagar biosfer dunia. Pembaca akan mendapatkan gambaran utuh mengenai potensi pariwisata kelas dunia yang masih beradu dengan tantangan fasilitas infrastruktur di lapangan. Sebuah panduan sekaligus refleksi kritis bagi siapa pun yang ingin mengenal sisi lain dari kemegahan alam dan budaya Nusa Tenggara Barat.






